Enam Tahun Kematian Munir: Darah Martir adalah Air Kehidupan

Diposting oleh FilsafatKonseling on 11.13.201111.11.20119.04.20119.13.2010

I.
Entah karena alasan apa, salah satu guru saya bertanya soal pilihan saya dalam melihat dunia, yang mana pilihan tersebut banyak memengaruhi saya, yang di antaranya, dalam memaknai pola relasi sosial dan menafsirkan agama.

“Sampai kapan kamu akan menjadi orang yang "seperti" ini?”

Saya agak terkejut dengan pertanyaan ini. Apakah dia bertanya untuk sekadar pengin tahu atau menguji. Atau barangkali dia meragukan pilihan saya, menganggap sebagai euforia di masa muda.

“Ya, kurang tahu juga sih, Om,” jawab saya telat. 
“Maksud aku, apakah ide yang kita pegang tersebut harus dijalankan tanpa kompromi, tanpa merhatiin keadaan dan alasan, atau enggak. Kadang kita punya alasan kuat, tapi enggak keadaannya. Nah, kalo maksud pertanyaan, Om, apa aku akan membuang ideku ketika harus kompromi, ya aku bilang enggak. Jadi, ya aku akan tetap megang ideku (jika ide itu masih tepat). Ini kan soal taktik, yang mana taktik itu juga dibangun pada ide itu sendiri. Jadi, kompromi yang ada pun dilakukan dengan sinaran ide itu sendiri,” sambung saya.

“Ok, I see,” timpalnya.

Mungkin pembicaraan saya dengan dia, bisa dikatakan semacam penguat dan pengingat. Mengingat dia juga merupakan seorang yang memiliki pandangan keagamaan, paling tidak dalam konteks Indonesia, merupakan minoritas. Saya juga paham bahwa dia menanyakan hal itu bukan tanpa sebab atau alasan. 

Guru saya itu sekadar guru bagi saya, melainkan juga seorang teman, kakak, dan tentu saja guru spiritual saya. Dari interaksi kami selama ini, dia memang sangat penyayang dengan orang yang dikenalnya. Itu juga kenapa saya lebih nyaman memanggilnya dengan panggilan “Om” ketimbang ustadz.

Pertanyaannya itu membuat saya sejenak untuk tepekur. Sejauh mana bangunan pemikiran saya berperan dalam kehidupan yang dijalani. Akankah saya siap akan segala konsekuensi atas pilihan-pilihan yang diambil dan ditempuh. Mengapa saya tidak membiarkan diri ini larut dalam arus utama. Mengapa saya tetap berpendapat bahwa dunia yang selama ini dipahami banyak orang perlu di(de)rekonstruksi. Pertanyaan-pertanyaan lain berkelebatan di benak saya. Paling tidak, pertanyaan itu semakin mengingatkan saya bahwa akan ada kemungkinan-kemungkinan yang boleh jadi buruk menimpa atas pilihan yang sudah dipilih.

II.
Beberapa hari kemudian, pada waktu malam mulai memasuki masa pekatnya, saya ngobrol-ngobrol dengan salah satu guru saya yang lain di rumahnya. Guru saya yang satu ini, selain salah satu ahli filsafat Islam, merupakan seorang ustadz muda yang cukup menarik pemikirannya. Ada banyak hal yang dibicarakan pada waktu itu. Dan, tentu saja, ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dari obrolan tersebut.

Entah bagaimana, kita membicarakan sampai pada soal martir. Makna martir dalam kehidupan ini. Darah martir yang sangat diperlukan dalam hidup. Seakan-akan, atau jangan-jangan memang, martir merupakan salah satu dinamika dari sejarah hidup. Membicarakan martir berarti bicara perjuangan. Perjuangan demi kehidupan yang lebih baik.

Akal saya telah sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada kejadian-kejadian di kehidupan ini keserbabetulan. 

Setiap peristiwa selalu saja ada sasmita atau makna di dalamnya. Boleh jadi, bisa saja Anda mengatakan bahwa saya terlalu memaksakan untuk mencocok-cocokan peristiwa yang ada. Akan tetapi, ketika segala peristiwa itu memberikan efek dalam kesalinghubungannya, maka tentu ada realitas di sana. Setiap efek menandakan realitas.

Perbincangan saya dengan dua guru saya itu menemukan kesalinghubungannya. Bahkan, hal itu menjalin kesalinghubungan dengan hal-hal lain yang sudah saya alami sebelumnya.

III.
Masyarakat sekarang secara umum telah buta, tuli, bisu, dan mati hatinya, dalam melihat kejadian-kejadian yang ada di dalam kehidupan sekarang. Kemiskinan mengemuka di mana-mana. Fenomena kelaparan pun tidak sulit ditemukan. Fenomena penindasan, ketidakadilan, otoritarianistik, mudah ditemukan dalam keseharian kita. Kasih sayang yang hilang, cinta yang hilang, kepedulian sosial yang mulai memudar, nampak akrab dengan keseharian. Tegur sapa manusiawi selalu diselimuti dengan kecurigaan.

Banyak orang berbelanja melampaui kebutuhannya, pada saat sama banyak orang didera kemiskinan dan kelaparan. Banyak pusat perbelanjaan, apartemen, kondomonium dibangun, pada saat sama banyak orang tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak sedikit yang kehilangan tanah atau pemukiman karena digusur demi pembangunan hal-hal yang disebutkan sebelumnya. 

Banyak orang mengeluarkan uang untuk membeli makanan yang berharga di luar jangkauan nalar, pada saat sama banyak orang mencuri untuk memenuhi kebutuhan perutnya.

Negara beserta aparatusnya banyak membuat kebijakan-kebijakan yang malah menimbulkan kemudaratan yang hebat, kendati demikian negara tetap dilihat sebagai hal yang tidak bersalah dan tercela. Banyak pejabat negara yang menggunakan uang rakyatnya bukan demi kepentingan rakyat, melainkan dirinya sendiri. Akan tetapi, tetap saja kita selalu mendambakan akan munculnya pejabat negara yang baik hati, tanpa pernah berpikir bahwa apakah sistem negara yang membuat hal itu terjadi. 

Keburukan-keburukan pada kehidupan banyak orang yang diakibatkan oleh penguasa negeri ini, masih tetap tidak membuat kita berpikir bahwa para penguasa itu hadir untuk apakah untuk mepentingan publik atau kekuasaan dan kapital belaka. Alih-alih mengambil alih kontrol hidup ke tangan kita dari penguasa, kita malah membiarkan terus menerus para penguasa mengontrol hidup kita, walaupun para penguasa itu selalu membayar dengan kemudaratan atas sikap kepatuhan kita kepadanya.

Masyarakat kita adalah mayat hidup, untuk tidak mengatakan sudah benar-benar mati. Dunia kita sudah mati. Bumi sebagai tempat kita berpijak seakan-akan mati, hingga tidak menginspirasikan kita untuk menghidupkan hidup kita.

Seorang pernah berkata bahwa darah martir sangat diperlukan bagi kehidupan di dunia ini, ketika masyarakat telah buta, tuli, bisu, dan mati hatinya. Untuk menghidupkannya ialah dengan darah, darah seorang martir. Darah seorang martir yang membasahi bumi akan memberikan kehidupan dan menginspirasikan kehidupan.

Mendadak saya teringat kasus Munir. Pascakematian Munir, banyak berbagai kalangan yang mulai mencoba memeriksa kembali penglihatannya, pendengarannya, dan angkat suara serta menengok hatinya. Munir mati akibat tindakannya selama ini dalam melihat dunia yang dijalankannya. Akan tetapi kematian Munir memberikan nafas kehidupan untuk banyak orang. Kematian Munir menghidupkan banyak Munir yang lain. Mungkin inilah yang dimaksud dengan “Gugur satu tumbuh seribu”. 

Tentu saja tidak hanya Munir yang kematiannya memberikan kehidupan dan inspirasi untuk menghidupkan kehidupan. Di dunia ini kita tahu bahwa banyak orang yang melawan tirani yang sudah mati dan menemui kematian akibat perlawanannya, akan tetapi kehadirannya selalu saja tetap dirasakan. Bahkan, dalam Kitab Suci disebutkan bahwa tidak selamanya “Kekasih Tuhan” yang mati itu dikira benar-benar mati di dunia ini. 

Kematian tidak selamanya adalah kematian itu sendiri.







Catatan:
  1. Tulisan ini merupakan tulisan yang sudah saya buat beberapa tahun silam, yang boleh jadi sudah tidak mencerminkan keadaan saya sekarang. Sekadar berbagi catatan dan dokumentasi hidup.
  2. Saya terpikir untuk menaruh tulisan ini lantaran sesuai dengan semangat para pejuang yang gugur membela ketidakadilan. Dan kita akan menyambut kemerdekaan Indonesia sebentar lagi. Saya juga juga ingat nasib orang banyak yang berjuang untuk lepas dari penjajahan. Jadi, selamat merenungkan makna kemerdekaan, yah :-)
  3. jangan lupa baca bagian pertama cerita ini di sini yah.
Baca selengkapnyaEnam Tahun Kematian Munir: Darah Martir adalah Air Kehidupan

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Diposting oleh FilsafatKonseling on 11.13.201111.11.20119.04.20119.13.2010

Kami dari Filsafat Konseling mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakannya.
Mohon maaf lahir dan batin.
Baca selengkapnyaSelamat Hari Raya Idul Fitri

[Nyaris] Filsafat Mudik

Diposting oleh FilsafatKonseling on 11.13.201111.11.20119.04.20119.13.2010

Bisakah fenomena mudik kita telaah secara mendalam dan radikal seperti cara kerja filsafat? Bisa. Meski demikian, tulisan berikut hanya hampir mendalam dan hampir radikal, jadi ia juga hampir filosofis :-)



Mudik merupakan fenomena keislaman khas Indonesia. Terlepas dari konsumerisme yang belakangan menyembul dari fenomena itu, mudik sesuatu yang sarat makna, bahkan sangat erat kaitannya dengan dimensi terdalam dari manusia, yakni kerinduan akan berkumpul dan berpulang.

Mudik mengingatkan manusia bahwa dia selalu mendamba kepada sumber: mulai dari tingkatan rendah seperti kampung halaman sampai pada tingkatan tinggi seperti Tuhan. Ketika seseorang bekerja atau kuliah di luar negeri, dia pada waktu tertentu akan merindukan sesuatu yang disebut tanah air atau kampung halaman. Meski negeri orang hujan emas, masih lebih baik negeri sendiri yang hujannya batu itu.

Kematian adalah hal lain yang ikut dirindukan manusia. Tetapi, kadang manusia gagal membedakan dengan rasa sakit yang diduga bakal dijumpainya ketika menghadapi kematian dengan kematian itu sendiri. Ada juga yang merasa bahwa dengan kematian, maka segala hal kesenangan di dunia akan tak teraih jika dirinya mati. Ada juga yang merasa tugasnya di dunia belumlah tercapai sehingga kematian dianggap sebagai tanda kegagalan. Hal-hal seperti itu pada akhirnya membuat seseorang mengabaikan rasa rindunya akan kematian.

Mudik itu sebenarnya mengajarkan manusia untuk mengenali dirinya sendiri dan sumber dirinya. Secara sederhana, berkumpul dengan orangtua dan keluarga pada waktu Lebaran menyiratkan bahwa itulah tempat asal seseorang. Dari sanalah dia berasal, dan di sanalah dia akan kembali.

Selamat mudik dan hati-hati di jalan yah.
Baca selengkapnya[Nyaris] Filsafat Mudik

Filsafat Ngeblog (1)

Diposting oleh FilsafatKonseling on 11.13.201111.11.20119.04.20119.13.2010

Gambar dari sini.
Ancang-Ancang
Filsafat ngeblog? Makanan apakah gerangan? FilsafatNgeblog? Apakah ada hubungannya di antara keduanya?

Sebelum saya memaparkan soal filsafat ngeblog, perlu saya sebutkan di sini bahwa tulisan ini sekadar refleksi saya pada soal tulis-menulis. Lantaran pada masa sekarang Internet sangat signifikan dalam memengaruhi pola sosialitas kita, fenomena tulis-menulis pun ikut berevolusi secara kultural, dalam hal ini media tulis-menulis.

Sebelum Internet merambah dan diterima sebagai sesuatu yang publik, tidak semua orang mampu menerbitkan tulisannya agar dibaca oleh khalayak. Ketika itu, penerbitan tulisan masih dimonopoli oleh penerbit konvensional. Jika tulisan dikontekskan pada soal informasi, pengetahuan, dan kuasa, dengan kehadiran Internet, sesuatu yang disebut pusat menjadi suatu yang diragukan eksistensinya. Ini bisa dilihat dengan berkembangnya jurnalisme warga, kalangan profesional yang berbagi pengetahuannya, orang yang disebut awam pun tak kalah ketinggalan ikut menyebarkan sesuatu yang diketahuinya, dan sudah banyak orang yang menjadikan blog sebagai media kontrol sosial. Untuk mencari berita, pada masa sekarang tidak harus bergantung pada media massa lantaran sekarang orang bisa menjadi seorang pewarta. Untuk berbagi pengetahuan sekarang orang tidak melulu bergantung pada lembaga pendidikan formal lantaran sudah banyak orang yang menguasai disiplin tertentu membagi pengetahuannya secara cuma-cuma. Untuk mengkritisi pemerintah, sekarang orang tidak melulu menitipkan pesan pada anggota DPR atau pejabat setempat lantaran sekarang orang sudah bisa mengkritik pemerintahan langsung di blognya, atau di laman jejaring sosialnya. Itulah yang saya maksudkan bahwa sesuatu yang disebut pusat, seperti pusat informasi, pusat pengetahuan, pusat kekuasaan, semuanya menjadi diragukan lantaran sekarang sudah tersebar.

Media yang hendak saya bincangkan dalam kesempatan ini adalah soal blog. Saya ingin menangkap semampu mungkin dimensi filosofis di balik aktivitas ngeblog itu sendiri. Tentu tulisan ini suatu tafsir. Anda harus membacanya secara kritis. Dengan begitu, Anda bisa bersama saya merayakan permainan ini dengan melampaui keterpusatan.

Omong-omong, apa sih blog itu? Untuk soal tersebut, saya tidak akan menulisnya lantaran sudah banyak tulisan lengkap soal ini. Anda bisa merujuk pada Enda Nasution, Wikipedia, Fikri, dan Isnaini (tentu masih banyak, Anda bisa mencarinya). Dengan demikian, tulisan ini sudah mengasumsikan bahwa definisi blog sudah diketahui sehingga tidak perlu disinggung.

Teroka
Tulisan dalam blog (selanjutnya disebut ngeblog), merupakan suatu alternatif dalam diskursus. Pengategorian ngeblog sebagai suatu alternatif diskursus, tentu saja bukan tanpa sebab. Selama ini, bicara tulisan, selalu diberikan standarisasi yang sarat dengan kepentingan, seperti selera kapital, pasar, kekuasaan, kemapanan, keterampilan menulis, dll. Suatu tulisan layak diterbitkan atau tidak, ditentukan oleh hal-hal tersebut, yang tidak secara langsung terkait dengan semangat aktivitas menulis itu sendiri. 

Ngeblog sebagai Modus Mengada
Ketika segala hal diukur dengan logika akumulasi kapital, maka apa pun harus dijadikan komoditas, dan dibandroli nilai akumulasi kapital. Akan tetapi, sangat sedikit, bahkan tidak ada, dari segala hal yang dibandroli nilai itu yang memiliki makna, selain bagaimana suatu hal itu dapat mengakumulasikan kapital. Dari sudut tersebut kita akan membicarakan ngeblog.

Ngeblog adalah modus eksistensi, yakni penyingkapan diri. Dengan ngeblog kita menjelajahi dan melampaui ruang-waktu. Kita bisa menuliskan suatu hal yang lampau, kini, akan datang; kehidupan di Bumi, Mars, antah-berantah, alam imajinal (alam barzakh, imago mundo), dll. Dengan ngeblog kita memeriksa kadar kemanusiaan kita. Ngeblog tidak hanya kegiatan fisik belaka, melainkan olah-pikir dan olah-rasa. Semakin sering menulis, semakin mampu kita melepaskan kungkungan yang melulu fisik.

Dalam ngeblog, kita tidak hanya mematerialkan apa yang ada di dalam diri, melainkan pemeriksaan. Ngeblog adalah kreasi atau penciptaan. Dengan mencipta, kita mengamati proses dalam kemenjadian yang kita upayakan. Dengan ngeblog, kita pun melakukan pelongokan ke dalam. Sejauh mana dan sampai titik mana kita mengetahui suatu hal. Bagaimana kita menggeluti suatu hal. Ngeblog, juga bicara kejujuran—kejujuran dimaksud bukan hanya dalam batasan moral. Apa yang kita rasakan, entah itu dari pencerapan persepsi maupun penalaran serta permenungan, yang kesemua hal tersebut hadir dalam diri kita, hendak dituangkan dalam bentuk aksara. Dari sini, kita memeriksa kejujuran kita. Tentu saja, dalam ngeblog tidak ada objektivitas yang terpisah dengan subjektivitas. Dengan demikian, kejujuran bukan hanya terletak pada persoalan suatu hal sebagaimana hal itu sendiri, melainkan bagaimana kita memahami dan memaknai hal yang kita geluti tersebut.

Ngeblog, sebagai penyingkapan diri, sama halnya kita melakukan “kenaikan” diri menuju hal yang abstrak dan nonmaterial dalam prosesnya. Ketika ngeblog, kita sepenuhnya berpikir dan merenung serta mengabstraksikan sesuatu, yang mana kedua hal tersebut merupakan penziarahan kita akan dunia yang melampaui fisikalitas melulu.

Ngeblog sebagai suatu proses sama halnya dengan “kebelummenjadi-kemenjadian”. Ngeblog tidak hanya berkutat pada hal ketakterselesaian maupun keterselesaian, melainkan irisan dua hal tersebut: itu juga kenapa saya menyebutnya “kebelummenjadi-kemenjadian”. Dengan demikian, dalam ngeblog tidak melulu ada titik henti dan titik berangkat yang permanen, juga tidak temporal, melainkan melampaui kedua hal tersebut.

Ngeblog, sama halnya dengan bahasa, adalah ungkapan kita mengenai hidup. Sebagai sebuah ungkapan atas tegur-sapa kehidupan, ngeblog merupakan pengetahuan kita akan hal tertentu. Karenanya, hal tersebut patut dirayakan untuk kehidupan dan pengetahuan itu sendiri. Itu juga mengapa ketika kita membaca suatu tulisan yang pernah kita tulis pada waktu lalu dalam waktu kekinian, kita bisa melihat jejak kita dalam menggeluti kehidupan. Kadang kita merasa konyol, tertegun, kagum, heran, gemas, tertawa, dsb. saat membaca kembali tulisan yang pernah kita ciptakan. Atau ketika kita membaca tulisan orang lain, kadang kita melihat jejak kehidupan sang pengarang dalam tulisannya. Dengan demikian, ngeblog juga bisa dikatakan sebagai sebuah rekaman perjalanan hidup itu sendiri.

Salah satu yang paling mengagumkan dari ngeblog ialah, ia mampu merekam peristiwa lalu dan menghadirkan kembali pada masa kini. Layaknya kotak tempat penyimpanan akan suatu hal, kita bisa menaruh peristiwa yang sudah kita alami dalam blog, dan pada masa kemudian kita bisa membukanya, untuk melihat masa lalu.

Ngeblog juga merupakan suatu alat berkomunikasi. Terkadang ketika seseorang membaca suatu tulisan, pembaca tidak hanya membaca isi tulisan, melainkan membaca sang pengarang. Dari hal tersebut, suatu upaya awal komunikasi bermula. Tulisan bisa menjelajah ke berbagai tempat, walaupun kita yang menuliskannya berdiam di suatu tempat. Dengan demikian, dalam ngeblog terdapat suatu jembatan penghubung antara penulis dan pembaca.

Ngeblog juga berbicara gagasan. Pengetahuan, ide, gagasan, teori, atau apa pun itu namanya, hanya sekadar memori yang mendekam di ruang memori jika tidak diungkapkan ke dalam ujaran dan aksara. Tidak ada pengetahuan yang tersebar jika tidak ada ujaran dan aksara. Itu juga, bukanlah merupakan hal berlebihan jika ngeblog bisa dikatakan atau dianggap sebagai senjata. Dengan demikian, dalam upaya merayakan proses menuju hal lebih baik dalam konteks kehidupan sosial, aksara tidak bisa diabaikan begitu saja. Transformasi sosial yang pernah terjadi, hampir ada aksara yang turut berperan di dalamnya.

Ketika pengetahuan dan kekuasaan saling berkelindan, maka pengetahuan yang beredar pun akan mendapat kontrol atau pengawasan dari penguasa. Teks dan ujaran pengetahuan akan terdistribusikan dengan mudah jika tidak mengancam eksistensi kekuasaan. Teks yang mengancam eksistensi kekuasaan, menghancurkan budaya mapan, mendobrak nilai tatanan sosial mapan, dll. akan menjadi hal terlarang. Sampai sini, kita bisa melihat bahwa teks, termasuk negblog di dalamnya, mempunyai makna yang dalam, melampaui yang pernah kita duga sebelumnya. Dengan demikian, teks sangat penting ketika penguasa mengatur peredaran teks dalam masyarakat. Harus ada teks yang beredar untuk menjadi counter atau sanggahan terhadap kekuasaan. Pada titik ini, ngeblog juga bicara akan pemaknaan suatu hidup itu sendiri. Perlawanan atau pemberontakkan atas kekuasaan, bukanlah sekadar ketidakterimaan suatu pihak saat dikuasai oleh pihak lain, melainkan pemaknaan kehidupan yang juga dapat dilakukan oleh diri kita sendiri, sebagai manusia yang berkehidupan.

Hal-hal seperti yang sudah disebutkan sebelumnya—walaupun masih banyak hal yang bisa kita sebutkan—tentu sangatlah sulit untuk kita dapatkan ketika kita menulis dalam jagad komoditas. Makna-makna tulisan menjadi kering, selain hanya persoalan komoditas. Dalam jagad komoditas, pihak yang bekerja menerbitkan tulisan tidak akan menerbitkan begitu saja tulisan yang tidak bisa memberikan tambahan pada kapital dan mengancam eksistensi kekuasaan. Pun pada akhirnya, banyak blogger serupa dalam mencipta, terjebak pada logika komoditas: mencipta untuk mencari uang. 

Tentu saja, saya tidak bermaksud untuk mengatributkan benar-salah belaka dari persoalan ini. Dalam arti, hal tersebut adalah hal lain, paling tidak bukan hal yang dijadikan titik pembahasan tulisan ini—walaupun saya tidak akan menghindari hal tersebut. Yang hendak saya bincangkan ialah bahwa kita bisa dan mampu menulis lepas dari kungkungan logika komoditas. Dan, ngeblog merupakan salah satu hal yang bisa dijadikan sebagai jawaban—tentu bukan satu-satunya jawaban.

Dalam ngeblog, menulis bukan demi komoditas melulu, melainkan suatu hal bisa yang dilakukan penuh dengan pemaknaan. Karenanya, ia tidak bisa direduksi hanya untuk sekadar mencari uang. Dengan demikian, pada dasarnya ngeblog merupakan suatu sistem tanda bahwa ngeblog adalah penciptaan. Dikatakan sebagai sistem tanda lantaran ngeblog merupakan wujud penolakan atas kehidupan yang didominasi oleh kepentingan kapital; pendobrakkan atas standardisasi penulisan yang disepakati segelintir pihak; penolakan dalam mencipta demi keinginan pasar melulu; pendobrakkan atas batasan-batasan isi tulisan atau hal-hal yang selama ini didiamkan untuk ditulis; pendobrakkan asumsi bahwa menulis adalah kemampuan yang dimiliki sebagian orang saja; perlawanan terhadap kekuasaan atau dominasi; penolakan terhadap penyeragaman dalam melihat dunia yang kaya akan makna; dan tanda-tanda lainnya. Ngeblog juga merupakan suatu upaya pemutusan kebergantungan penulis terhadap pusat penerbitan yang didasari logika komoditas.

Appendiks: Permasalahan 
Bagian ini lebih tepat dipahami sebagai bahan yang bisa kita renungkan dan diskusikan ke depan. Oleh karena itu, saya hanya memaparkan sedikit permasalahan, tidak semua disebutkan, yang bisa ditemui dalam ngeblog. Alasan saya membuat lampiran ini, sebab hal yang akan saya sebutkan cukup penting, terutama pada titik bahwa ngeblog sebagai merupakan peretas keterpusatan.

Jika kita membaca pelbagai blog atau blogwalking, tidak sedikit kita menemukan ungkapan yang malah menjadikan sang blogger teralienasi dan rendah diri. Misalnya, tidak sedikit blogger yang menyebut dirinya tidak bisa menulis; mohon dimaklumi jika tulisannya jelek atas nama blogger newbie; menganggap ketidakseriusan sebagai hal yang melulu tidak serius; dll.

Hal-hal seperti itu, tentu saja tidak hanya mengerdilkan makna menulis, melainkan juga mengerdilkan kehidupan itu sendiri. Jika alasan seseorang ngeblog dikarenakan tidak bisa menulis, sama saja kita mengamini pendapat bahwa menulis adalah milik segelintir pihak. Padahal menulis bukanlah hal yang given, melainkan upaya. Dengan demikian, hal tersebut sama saja menafikan proses aprosiasi kita akan hal-hal yang kita ketahui dan bisa kita lakukan. Pada sisi lain, hal tersebut malah membuat demarkasi antara tulisan yang tidak bisa disebut sebagai tulisan sebagaimana tulisan dengan tulisan yang bisa disebut sebagaimana tulisan. 

Akhirnya, jika begitu keadaannya, ketika kita ngeblog, pada saat sama kita membangun sistem tanda rendah diri dan hierarkis. Blogger lebih rendah daripada penulis/pengarang buku, wartawan, dll; informasi yang didapat dari blog tidak serius daripada informasi yang berasal dari surat kabar, televisi, dll; blogger adalah orang yang kemampuan menulisnya pas-pasan; dsb.

Tentu saja, ada banyak hal yang pengin saya bicarakan soal keterjebakan pada alienasi yang terdapat di dalam ngeblog. Akan tetapi, karena niat saya hanya hendak membuka diskusi, hal tersebut sudah dirasa cukup memberikan sedikit gambaran permasalahan yang ada di dalam ngeblog yang bisa didiskusikan bersama.

Saya tunggu yah, responsnya!
Baca selengkapnyaFilsafat Ngeblog (1)
 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner