Hasrat Tontonan atau Hasrat Spectacle (1)

Diposting oleh FilsafatKonseling on 8.06.2010

Syahdan, dua orang mistikus sedang melakukan perjalanan panjang untuk merengkuh nilai dan makna hidup. Yang satu agak pendiam, yang lain tidak begitu suka terdiam. Berdua mereka melewati berbagai daerah, taman, dan rumah. Dengan ceria, mereka menyapa alam secara saksama. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan pelbagai makna.

Setiap mereka melintasi rumah-rumah yang sangat megah, yang kemegahannya hanya mampu ditandingi istana, mistikus yang tidak suka tidak mengomentari akan sesuatu yang dilihatnya menarik, selalu saja berdecak kagum akan kemewahan dan kemegahan rumah yang ia lihat tersebut. Mistikus yang satu lagi, hanya terdiam.

Selalu saja, kali melintas rumah mewah nan megah, mistikus pengomentar itu berdecak kagum. Dan masih saja sang mistikus pendiam membisu. Lamat-lamat, mistikus pengomentar tidak hanya kagum, yang terekspresikan dengan bahasa tubuh, melainkan melontarkan pujian.

“Lihat, betapa indahnya rumah itu, wahai saudaraku,” ucapnya.

Mistikus pendiam itu hanya tersenyum, sambil terlambat menghadapkan wajah kepada teman seperjalanannya itu.

“Tahukah kau, bahwa karena orang-orang sepertimulah, rumah-rumah itu dibangun oleh mereka,” katanya kepada saudaranya. “Karena, orang selalu memuji kemewahan dan kemegahan suatu tempat tinggal, maka berlombalah mereka mendirikan bangunan megah nan agung untuk mendapatkan pujian seperti yang kau lontarkan itu, wahai saudaraku,” sambung lembut mistikus pendiam itu.

Mistikus pengomentar, mendadak merasakan dunia limbung. Mendadak semua menjadi butiran zarah, yang dengan mudahnya terhempas begitu sedemikian, dan dilupakan begitu saja. Semua zarah, yang mudah terhempas. Zarah, tidak lain.



Artikel Terkait:

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Terima kasih atas peluangan waktu Anda membaca tulisan ini. Tentu saja, saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda ikut mengomentari tulisan ini.

 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner