Hiper-Ramadhan (2)

Diposting oleh FilsafatKonseling on 8.05.2010

Marhaban Ya Syahr Ramadhan
Selamat Datang Syahr Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Selamat Datang Bulan Konsumtif

Era kontemporer atau kekinian ialah era komodifikasi segala sesuatu. Kehidupan kontemporer dicirikan kegandrungan pada budaya populer, budaya komoditas, dan budaya konsumerisme dalam keseharian masyarakat kebanyakan. Ketika hal-hal tersebut mulai memengaruhi pola keberagamaan, maka keberagamaan menjadi suatu jagad komoditas, citra, dan konsumerisme. Ibadah puasa kaum Muslim, yang jatuh pada syahr Ramadhan, pun tak luput dari hal-hal tersebut. Syahr Ramadhan menjadi terperangkap pada suatu ruang komoditas, citra, dan konsumerisme.

Puasa syahr ramadhan, seperti hal ibadah lainnya, memunyai akar tunjang pada pribadi Nabi Muhammad saaw. Yang artinya, puasa memunyai rujukan atau referensi dalam pelaksanaannya. Puasa yang diamanatkan Tuhan, melalui Rasul-Nya, kepada manusia ialah bertujuan untuk membina manusia mencapai tingkat eksistensi murninya atau untuk menghindarkan nafsu duniawi yang menyebabkan terhapuskan nafsu ruhaniahnya. Puasa adalah menahan--seperti arti asalnya yakni menahan atau diam, yang berakar kata dari shad-ya-mim (shiyam)--diri dari segala hal yang membuat manusia mengalami ketidakseimbangan pada dirinya. Puasa ialah menahan diri dari segala hal yang dapat merusak kadar kemanusiaan manusia. Puasa adalah diam[1] terhadap segala perbuatan tercela.

Hal yang sering luput dari pemahaman kaum Muslim kebanyakan ialah, bahwa segala ibadah, baik itu mahdhah dan muamalah, mengandung pesan atau nilai moral untuk direngkuh oleh manusia agar mencapai tingkat paripurna dalam akhlak. Dengan demikian, puasa ialah suatu upaya penggemblengan-diri (riyadhah) manusia. Puasa, dengan melakukannya, diharapkan kaum Muslim mampu merasakan kegetiran dan kepahitan ketika rasa lapar dan dahaga hadir dalam dirinya. Puasa adalah mengingat, bahwa ada di luar sana manusia yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, yakni makan dan minum. Puasa juga memerhatikan persoalan kemiskinan. Puasa adalah suatu modus penyentilan eksistensi akan ketamakan dan kekikiran manusia. Puasa ialah latihan merasakan penderitaan orang lain. Dengan kemampuan merasakan penderitaan orang lain, manusia diharapkan mampu memberi dan berbagi kepada sesamanya. Puasa juga modus eksistensi egalitarian. Rasa lapar dan dahaga yang selama ini hanya dirasakan oleh banyak orang miskin, juga dirasakan oleh banyak orang yang tidak pernah mengalaminya samasekali.

Pada era kekinian, ketika syahr Ramadhan masuk ke dalam ruang komoditas, citra, dan konsumerisme, maka ramadhan kehilangan akar tunjang, referensi, dan maknanya. Syahr Ramadhan kontemporer selalu dirayakan gegap gempita pada wilayah permukaan, penampakan, dan tanda-tanda. Sibuk dan ramai-ramai ruang-ruang dimodifikasi sedemikian untuk mencitrakan Ramadhan, seperti ketupat, bedug, atmosfir padang pasir, Timur Tengah, mediterania, dll. Pusat-pusat perbelanjaan mendadak menyulap ruangannya atau mendekorasi dengan citra Ramadhan. Reklame-reklame komoditi, yang sebelumnya tidak terpaut dengan semangat Ramadhan, mendadak menciptakan permainan dan rangkaian tanda dan citra Ramadhan.

Puasa kontemporer ialah berbuka dengan menu ini-itu (fastfood, dll.), berbuka pada tempat ini-itu (cafe, hotel, dll.), berbuka bersama dengan pihak atau orang ini-itu (selebritas, radio, televisi, ustadz selebritas[2], dll.), mengenakan pakaian ini-itu (sarung, baju koko, kupiah, jilbab, kerudung, dll.). Puasa kekinian ialah bagaimana merayakannya dengan membeli sesuatu dan bermain citra di dalamnya. Puasa yang telah kehilangan makna dasarnya.

Berbuka dengan suatu menu yang ditawarkan oleh restoran fastfood, misalnya, tidak hanya sekadar berbuka atau makan, melainkan mengandung citra yang hendak ditampilkan. Seperti, menciptakan cita-rasa atau selera atas tanda dan/ dari citra tertentu, misalnya. Berbuka pada suatu tempat yang ditawarkan, katakanlah hotel atau cafe, tidak hanya sekadar berbuka atau makan, melainkan soal status atau citra kelas yang hendak dicitrakan. Begitupun soal permainan citra, yang sebelumnya absen, mendadak hadir pada ruang publik. Sebuah rangkaian tanda dan citra yang memproduksi makna-makna baru puasa yang tidak memunyai referensi dasar, namun dianggap sebagai realitas. Padahal sejatinya ia merupakan sebuah realitas artifisial. Sebuah rangkaian tanda dan citra yang akan menghilang kembali ketika syahr Ramadhan berlalu.

Dalam masyarakat konsumer atau "masyarakat tontonan" (society of spectacle), puasa menjadi sebuah ajang reproduksi makna yang dinisbahkan pada hal lain atau di luar puasa itu sendiri. Pada akhirnya, puasa dikembangbiakkan di dalam jagad komoditas yang menciptakan suatu gaya hidup konsumtif. Sebuah gaya hidup yang memunyai rujukan aksiologis logika konsumtif. Kendati demikian, aksiologis tersebut dianggap sebagai bagian dari ritual puasa.

Puasa terjebak pada perangkap budaya massa dan budaya populer, yang didalamnya berbagai bentuk artifisialitas tanda dan citra. Berbagai bentuk kemasan citra dan tanda serta gaya hidup, seperti menu buka puasa, berbuka pada tempat-tempat komoditas tertentu, pakaian bersimbol kesalehan, fashion show, parcel, paket hiburan Ramadhan, acara kuis sambil menunggu berbuka, berbuka bersama selebritas, baik itu dari kalangan artis dan ustadz, dianggap sebagai bagian ritual puasa hakiki.

Fenomena syahr Ramadhan dan puasa kekinian, telah kehilangan jejak jejak-jejak makna yang disuritauladankan oleh Nabi dan dalil-dalil yang teperici. Hal tersebut, membuat syahr Ramadhan dan puasa menjadi berkembang sebagai hiperrealitas, hiperrealitas Ramadhan. Adalah realitas Ramadhan yang telah melampaui hakikat puasa itu sendiri. Maka Ramadhan adalah suatu perkembangan dan penciptaan berbagai bentuk realitas-realitas ritual artifisial. Yang mana sifat artifisialitas tersebut membawa pelbagai bentuk budaya materi yang sangat bertolak belakang dengan hakikat puasa itu sendiri, puasa yang sebagai sebuah ruang penggemblengan-diri dan pembersihan diri dari kekotoran nafsu duniawi yang menafikan nafsu ruhaniah.

Hiperrealitas adalah reliatas artifisial, yang tidak lagi berkaitan dengan realitas asasi, referensi dasar, sifat dasar, atau prinsip alamiahnya. Ia adalah realitas yang telah terdistorsi dari awal, yang menjadi model atau rujukannya. Hiperrealitas menciptakan sebuah kondisi, yang didalamnya citra dianggap sebagai kebenaran. Mematikan kemampuan sikap kritis dan reflektif untuk membedakan antara kebenaran dan kepalsuan, antara citra dan realitas. Hiperrealitas adalah penciptaan model-model kenyataan yang menafikan asal-usul dasar atau referensi realitas.

Ramadhan tidak lagi mengacu pada realitas dasar, melainkan realitas artifisial. Pelbagai kegiatan Ramadhan artifisial digalakan sedemikian, sehingga menjadi suatu realitas yang dianggap hakiki. Padahal sejatinya, ia adalah realitas artifisial. Realitas dasar menjadi realitas artifisial, sedangkan realitas artifisial menjadi realitas dasar.

Dekonstruksi Ramadhan Kontemporer
Hilangnya akar tunjang, pada kegiatan ibadah puasa, menjadikan puasa sebagai hiperrealitas. Puasa artifisial yang melampaui puasa hakiki itu sendiri. Hiperrealitas Ramadhan adalah kegiatan ibadah puasa yang dibangun pada dasar prinsip simulasi, yakni dimensi atau kegiatan puasa yang tampak, atau dibuat tampak sedemikian, seakan-akan dianggap sebagai bagian dari realitas yang asli, yakni semangat Ramadhan yang berakartunjang dan tumbuhkembang pada pribadi Rasulullah.
Puasa juga mengalami pereduksian sedemikian rupa. Menjadi sekadar fenomena ibadah yang dilihat pada permukaan, penampakan, dan tanda-tanda, dan tergerusnya makna puasa hakiki, pada nilai-nilai moral-spiritualnya. Puasa malah menjadi sekadar simbol-simbol yang digunakan untuk ungkapan dan identitas kesalehan: citra takwa, baju koko, kupiah, topi haji, sajadah, sarung, kerudung, jilbab, dll., yang semuanya dibuat khusus dan digunakan untuk syahr Ramadhan. Pasca-Ramadhan, semua hal tersebut dikuburkan kembali.

Puasa kekinian juga merupakan sebuah proses semiotisasi Ramadhan, yakni memasuki atau memuati nilai-nilai Ramadhan dengan makna-makna artifisial. Yang dicirikan oleh serangkaian tanda dan citra artifisial, yang tidak berkaitan samasekali dengan konteks puasa, melainkan diciptakan dan dikonstruksikan sedemikian, sehingga secara kolektif dianggap menjadi suatu bagian syahr Ramadhan. Sebagai misal, paket berbuka dengan selebritas, paket liburan Ramadhan, parcel lebaran, iklan-iklan produk yang memanfaatkan momen Ramadhan, sinetron-sinteron religi menyambut puasa, kuis-kuis menunggu sahur dan berbuka puasa, adalah contoh yang tidak ada kaitannya dengan hakikat puasa.

Puasa kekinian ialah gaya hidup, yang mengelompokkan masyarakat menjadi tefragmentariskan pada strata-strata tertentu, yang menampakkan ciri, tanda, simbol dan identitas mereka lewat citra pakaian yang dikenakan, citra menu berbuka yang dimakan, citra tempat-tempat tertentu yang dijadikan tempat berbuka, citra parsel lebaran yang dikirim atau diterima. Ia menciptakan divisi-divisi masyarakat Ramadhan berdasarkan status, prestise, dan citra serta tanda-tanda.

Sampai sini, bisa dikatakan bahwa hiperrealitas Ramadhan adalah merupakan sebuah bentuk logika konsumtif-lanjut hiper. Mengonsumsi makanan berbuka bukanlah untuk fungsi utilitasnya, melainkan mengonsumsi citra dan tanda diluar nilai puasa dan makanan itu sendiri. Dan sikap konsumtif lainnya.

Ramadhan, agar selalu mampu menjadi suatu proses transformatif kualitas seseorang, puasa haruslah dikembalikan pada referensi dasar, makna dasar, hakikat, dan nilai-nilai moral-spiritualnya. Kita harus mampu membedakan mana nilai puasa yang artifisial, dan mana nilai yang tidak. Dengan demikian, puasa adalah suatu upaya latihan diri untuk mentransformasikan kualitas kemanusiaan kita, bukan suatu pemanjaan diri.

Diriwayatkan, Nabi Muhammad saw berkata bahwa, "Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memeroleh apa pun dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga".

Alla kulli hal, selamat menunaikan ibadah puasa pada syahr Ramadhan ini kali.

Wa Allah a'lam.


[1] Diam terhadap perbuatan tercela di sini bukan berarti membiarkan segala kemungkaran, katakanlah ketidakadilan, terjadi, melainkan tidak melakukan atau mendekati perbuatan tercela.
[2] Yang saya maksudkan dengan ustadz selebritas ialah ustadz yang dilahirkan atau diciptakan oleh media elektronik mainstream, dalam hal ini televisi. Yang mana sebelumnya, ustadz tersebut tidaklah dianggap sebagai ustadz oleh masyarakat sekitar di mana ia tinggal. Dan selalu berkolaborasi pada ruang komoditas, seperti menjadi bintang iklan suatu produk, misalnya.


Artikel Terkait:

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Terima kasih atas peluangan waktu Anda membaca tulisan ini. Tentu saja, saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda ikut mengomentari tulisan ini.

 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner