Menuju Pandangan-Dunia Holisitik: Sebuah Pengantar Singkat

Diposting oleh FilsafatKonseling on 8.06.2010

Peradaban modern mewariskan, salah satunya, persoalan dualitas. Rene Descartes (1596-1650), bapak filsafat modern, dianggap orang yang kali pertama membedakan antara jiwa dan tubuh atau res cogitans dan res extensa. Pandangan Descartes diikuti maupun dikukuhkan oleh Sir Isaac Newton (1642-1727). Dalam perkembangannya, pandangan dualisme bersifat linier-deterministik-reduksionistik-atomistik-instrumentalistik.


Pandangan ini melihat segala sesuatu secara serba terpilah dan dikotomis. Realitas yang kompleks, kesalinghubungan dipandang hanya sebagai kumpulan balok atom. Layaknya puzzle, realitas dicopot satu per satu, kemudian dari pengamatan terpilah tersebut digabungkan, dan kemudian dikuantifikasikan. Pandangan tersebut sejatinya, selain gagal dalam menangkap realitas secara utuh atau holisitik, pandangan ini, yang kemudian dikenal dengan Cartesian-Newtonian[1], turut menyumbangkan krisis kompleks dan multidimesional. Seperti, krisis ekologis, kekerasan, dehumanisasi, moral, kriminalitas, kesenjangan sosial yang kian menganga, serta ancaman kelaparan dan penyakit yang masih menghantui dunia merupakan persoalan yang saling terkait satu sama lain. Tulisan berikut berusaha menyoal itu. Dari mana pandangan dualistik ini bersumber? Apa saja implikasi dari pandangan ini? Kenapa pandangan ini tidak mampu membingkai realitas secara utuh dan menjawab persoalan secara holisitik? Sebagai tulisan yang hendak menyoal persoalan secara singkat, tentu artikel ini banyak melewatkan sesuatu dan kesan menyederhanakan tidak bisa terhindar.

Alienasi dan Reifikasi: Karakter Manusia Modern
Salah satu persoalan serius yang menimpa manusia modern kontemporer adalah alienasi dan reifikasi. Gejala tersebut terjadi akibat dari cara pandang yang dualistik-atomisitik-mekanisitik-materialistik. Sebagai misal, subjek-objek, fakta-nilai, manusia-alam, manusia-Tuhan, “aku”-”yang lain”, borjuis-proletar, sakral-profan, suci-sekular, timur-barat, maju-terbelakang, pria-wanita.

Alienasi adalah keadaan mental manusia yang ditandai oleh perasaan keterasingan terhadap segala hal atau sesuatu; sesama manusia, alam, lingkungan, tuhan, bahkan terasing terhadap dirinya sendiri. Hal ini terkait dengan gejala reifikasi atau pembendaan (obyektifikasi). Adalah keadaan mental manusia modern menghayati dirinya sendiri sebagai benda, objek. Segala sesuatu pada akhirnya dilihat sebagai benda. Dunia reifikasi adalah dunia keterasingan. Praktik-praktik, untuk tidak menyebut semua, konsumerisme, kecemasan mendalam, hedonisme pada kehidupan manusia modern sejatinya merupakan pelarian dari bentuk-bentuk alienasi dan reifikasi.

Orang akan menemukan eksistensi dirinya ketika berbelanja, sebab ia sedang mengobyektisasikan dirinya terhadap imaji-imaji yang ditawarkan oleh iklan. Karenanya bisa dimengerti ketika seseorang tidak berbelanja—dalam konteks pemenuhan kebutuhan yang tidak dbutuhkannya—ia merasa terasing dalam hidup, terasing terhadap di luar dirinya, bahkan terasing terhadap drinya.

Alienasi dan reifikasi tidak hanya melulu berkutat pada persoalan tersebut. Persoalan gender, gerakan pembebasan, semangat sains, keberagamaan, kehidupan bersosial, bekerja, peradaban, dan hal oposisi biner lainnya, sesungguhnya, secara filosofis setidaknya, merupakan implikasi dari gejala alienasi dan reifikasi.

Pembendaan atau menjadikan segala sesuatu sebagai objek dalam tataran gender mengakibatkan pria memandang wanita sebagai hal yang berbeda terhadap gendernya, sebaliknya. Pria diasumsikan harus begitu, sedang wanita diasumsikan harus begini. Hal ini dikarenakan pandangan dualistik. Pria melihat wanita sebagai objek, dan pada saat yang sama pria pun memandang dirinya sebagai objek. Begitu juga dengan wanita, melihat pria sebagai objek, di saat yang sama ia melihat dirinya sebagai objek. Inilah yang mengakibatkan bias gender, baik itu patriarkalistik maupun matriarkalistik. Pandangan ini erat kaitannya dengan gejala alienasi dan reifikasi.

Begitu juga dengan soal Kiri dengan Kanan, Tuhan dengan manusia, nilai dengan fakta, dan sebagainya. Ketika manusia melihat sesuatu di luar dirinya sebagai objek melulu, tanpa ada keterkaitan sebagai pengalaman hidupnya, problem alienasi dan reifikasi tidak akan terselesaikan. Dan sulit untuk menjawab persoalan-persoalan yang yang muncul, katakanlah problem ekologis, kekerasan, dehumanisasi, kemiskinan, kriminalitas, individualistik, dll. Persoalan ini bukanlah tanpa sebab atau jatuh begitu saja dari langit. Persoalan-persoalan atau krisis-krisis tersebut terkait erat dengan pandangan-dunia yang mendominasi kehidupan manusia modern, yaitu dualistik. Manusia modern tidak mampu memahami realitas secara integral atau holisitik melainkan dengan keterpilahan dan keterpisahan.

Krisis ekologis, untuk tidak membahas satu per satu, merupakan cara pandang manusia melihat alam atau lingkungan sebagai objek belaka, yang tidak terkait erat dengan pengalaman hidupnya. Alam diperlakukan sebagai entitas tidak bernyawa dan bermakna serta berkesadaran. Alam telah diputus dari jaringan kehidupan, yang dimana manusia terlibat di dalamnya. Alam dieksploitasi tanpa memedulikan dampaknya terhadap kehidupan. Sebab manusia, sebagai pengamat, melihat alam tidak terkait dengan jaringan kehidupan. Alam dilihat dengan cara rasio-instrumental, yang menitikberatkan keuntungan atau kuantitas melulu. Sejatinya teknologi(sme) yang dikembangkan berdasarkan praasumsi demikian. Bencana lumpur panas Lapindo disebabkan cara pandang tersebut.

Begitu juga dengan persoalan perdebatan klasik antara teori dengan praktik. Selama cara pandang melihat persoalan tersebut bersifat dualistik, sama sekali pun tidak akan pernah mencapai titik temu. Kalangan teoritis yang melihat ranah praktis adalah hal lain, sebaliknya kalangan praktis melihat ranah teoritis lain hal, sesungguhnya implikasi dari pandangan dualistik. Yang melihat segala sesuatu terpisah sama sekali, dan pada akhirnya sebagai objek melulu. Kulminasinya berujung bahwa segala sesuatu adalah objek, pengalaman yang dilihatnya dipandang tidak terkait dengan pengalaman dirinya, hingga dirinya pun dipandang sebagai objek: alienasi dan reifikasi.

Mencari Pandangan-Dunia Baru
Alienasi, reifikasi, krisis multidimensional, dll., merupakan hal pelik yang perlu dicari jawabannya. Kendati demikian, ketika pandangan manusia kekinian masih bersifat dualistik, persoalan tersebut tidak akan terjawab. Pandangan dualistik sudah tidak memadai untuk memahami realitas atau kehidupan, malah turut menciptakan krisis multidimensional; ia juga turut memisikinkan keanekaragaman kehidupan, sebab bersifat linear. Oleh karenanya harus mencari pandangan-dunia baru untuk melihat realitas atau kehidupan. Sebuah pandangan-dunia bersifat integral maupun holistik. Pandangan-dunia yang melihat entitas-entitas kehidupan sebagai nexus atau jaringan kehidupan, bukan sebagai balok bangunan yang bisa dicopot begitu saja. Pandangan-dunia yang melihat keanekaragaman kehidupan sebagai relasi, proses, dan saling memengaruhi satu sama lain. Pandangan-dunia yang melihat entitas segala sesuatu tanpa pembedaan, namun pada saat yang sama entitas-entitas kehidupan tidak bersifat identik.

Sebagai misal, pandangan-dunia holistik tidak melihat manusia dan lingkungannya sebagai entitas terpisah yang tidak memengaruhi satu sama lain. Manusia melihat lingkungannya tidak sebatas objek yang terpisah sama sekali terhadap dirinya, melainkan entitas yang saling memengaruhi satu sama lain serta menganggap sebagai pengalaman yang terkait dengan hidupnya. Dengan demikian lingkungan dilihat sebagai entitas bermakna, berkehidupan dan berkesadaran. Begitu juga dalam ranah sosial. Manusia tidak melihat sesamanya sebagai objek dan melihat pengalaman sesamanya sebagai pengalaman yang berkaitan dengannya serta saling memengaruhi satu sama lain, dengan kata lain tidak terpisah sama sekali. Sehingga kecurigaan terhadap sesama, perbedaan gender, kekerasan, kemiskinan bisa dicirikan jawabannya secara utuh.

Kecurigaan terhadap sesama diakibatkan seseorang melihat orang lain sebagai objek atau “yang lain” (the other). Ketika seseorang melihat orang lain sebagai yang lain, itu berarti pada saat yang sama ia melihat dirinya sebagai objek; “aku”-”yang lain.” Begitu juga dengan persoalan gender, pria melihat wanita melulu sebagai objek atau perasaan asing terhadap entitas yang berbeda dengannya (patriarkal). Sama halnya dengan wanita (matriarkal). Kasus lain, kemisikinan sampai saat ini masih belum memberikan tanda akan teratasi. Hal ini disebabkan pengalaman manusia, dalam hal ini kemiskinan, satu sama lain tidak dilihat sebagai pengalaman yang terkait dengan dirinya, melainkan pengalaman di luar dirinya yang terpisah sama sekali. Para pemodal yang melakukan kegiatan pasar tanpa memedulikan pengalaman manusia selain dirinya sebagai pengalamannya, akan menyebabkan tidak peduli akan dampak yang diakibatkan oleh kegiatan pasarnya. Sebab dampak tersebut dianggap bukan sebagai pengalaman dirinya, melainkan orang lain. Selain itu tercipta kesadaran—implikasi sikap melihat pengalaman orang lain tidak terkait dengan pengalaman dirinya—bahwa kemiskinan merupakan pengalaman individu. Ini yang menyebabkan adanya pemahaman bahwa kemiskinan merupakan akibat dari kemalasan atau takdir. Dengan kata lain kemiskinan tidak sama sekali dilihat sebagai proses atau ada yang menyebabkan. Sikap diam dalam melihat kemiskinan turut menciptakan, atau setidaknya memertahankan, kemiskinan. Sikap-sikap seperti ini bisa dilacak sumber permasalahannya, yaitu pandangan-dunia.

Tentu saja hal tersebut berarti erat kaitannya dengan persoalan epistemologis dan ontologis. Karenanya, pembenahan terhadap ranah epistemologis dan ontologis merupakan hal mendesak. Bagaimana melihat entitas di luar diri manusia? Bila entitas kehidupan yang ada tidak saling berkaitan, mengapa ketimpangan lingkungan dapat memengaruhi kehidupan manusia? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan manusia turut memengaruhi kehidupan lingkungan? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan sosial turut memengaruhi kehidupan personal? Mengapa ketimpangan dalam kehidupan personal turut memengaruhi kehidupan sosial?

Pandangan-dunia dualistik-mekanistik tidak mampu menjawab persoalan tersebut secara memadai. Terlebih ketika diajukan pertanyaan: ketika entitas tersebut saling memengaruhi apakah berarti secara ontologis entitas tersebut independen atau interdependensi? Apakah entitas tersebut identik satu sama lain? Ketika identitas entitas tersebut identik, bagaimana menjelaskan proses jaringan antarkehidupan?

Mau tidak mau, diperlukan membangun pandangan-dunia bersifat integral dan holistik untuk menjawabnya. Selain itu pandangan-dunia holistik juga dapat menjawab persoalan dualistik, yang merupakan akar-utama dari alienasi dan reifikasi serta krisismeltidimensional. Pandangan-dunia tersebut juga mampu melihat keanekaragaman, sebab tidak bersifat linier dan reduksionistik.

Tentu saja, artikel ini ini tidak mampu menjelaskannya secara terperinci, melainkan hanya global. Selain itu pandangan-dunia holistik tidak pernah berhenti pada satu titik. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis bahwa pandangan-dunia holistik melihat kehidupan tidak statis dan tunggal, melainkan bersifat dinamis dan tidak tunggal.


[1] Di maksud sebagai paradigma Cartesian-Newtonian adalah pandangan Rene Descartes (1596-1650) dan Isaac Newton (1642-1727) yang mendominasi metodologi pengetahuan modern selama kurang lebih tiga abad. Walapun perkembangan pengetahuan kontemporer banyak meruntuhkan asumsi-asumsi dasar paradigma tersebutm namun tetap saja paradigma tersebut berakar dalam/untuk memahami relitas atau kehidupan, Sebab runtuhnya asumsi dasar paradigma tersebut juga menggoyahkan epistemologis, ontologis, aksiologis, dan metodologis yang dibangun oleh paradigma tersebut. Seperti yang sudah disinggung bahwa pandangan dualisme merupakan warisan Rene Descartes, begitu juga Newton mewariskan pandangan mekanistik. Newton menggabungkan mimpi visioner rasionalisme Descartes dan visi empirisime Francis Bacon (1561-1626) agar dapat ditransformasikan ke dalam kehidupan nyata melalui peletakkan dasar-dasar mekanika. Ia memadukan Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1626), dan Galileo (1546-1626) di bawah asumsi kosmologis Descartesian yang mekanistik, atomostik, deterministik, linier, dan serbakuantitatif; dan padasaat yang sama, ia menerapkan metode eksperimental-induksi Baconian.


Artikel Terkait:

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Terima kasih atas peluangan waktu Anda membaca tulisan ini. Tentu saja, saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda ikut mengomentari tulisan ini.

 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner