Dasar-Dasar Etika: Sebuah Pengantar Sangat Ringkas

Diposkan oleh FilsafatKonseling on 8.06.2010

Ancang-Ancang
Persoalan moralitas merupakan hal pelik, dan pada saat yang sama hal tersebut dengan sangat mudah kita temukan dalam keseharian kita. Moral, bagaiamanapun ia dipahami, tidak bisa dilepaskan dari suatu sikap justifikasi akan sesuatu. Pada persoalan justifikasi inilah, moral begitu perlu untuk dikritisi. Hal ini disebabkan, pada kenyataannya, sistem moral tidak tunggal, melainkan pusparagam. Dengan demikian, ketika moral memasuki ruang publik, tidak menutup kemungkinan menciptakan atau mengkondisikan benturan-benturan atau gesekan-gesekan antara sistem moral yang satu dengan sistem moral yang lain. Tulisan berikut hendak memberikan gambaran umum dengan sangat singkat persoalan tersebut, dari sudut filosofis.

I. Pendahuluan
Penghayatan moral dalam tradisi pemikiran ditempatkan dalam etika. Ia bukan melulu disiplin pembahasan mengenai sikap praktis moral. Akan tetapi, etika melangkah lebih jauh, memertanyakan apa baik dan buruk itu. Kenapa suatu perbuatan bisa disebut baik dan buruk. Dari mana keputusan bahwa tindakan itu disebut baik dan buruk. Ringkasnya, etika lebih memertanyakan nilai suatu perbuatan dan persoalan terkait dengannya. Di sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa moral dan filsafat berkaitan erat.

II. Pengertian Moral
Secara etimologis moral berasal dari kata Latin, moralis, yang berarti kebiasaan, adat-istiadat, perilaku, tata cara. Moral sering disamakan dengan kata Yunani, ethos. Dalam pengertian umum moral diartikan sebagai baik atau buruk suatu tindakan. Dan perbuatan tersebut hanya dialamatkan pada manusia. Hampir bisa dipastikan buku atau ensiklopedi mengartikan moral tidak jauh mengaitkannya dengan baik atau buruk suatu perbuatan manusia, paling tidak sedikitnya mengandung pengertian tersebut.

Paul Newall (2005) mengatakan “In simple terms, morality is the right or wrong (or otherwise) of an action, a way of life or a decision….” Sedangkan James Rachel mengartikan moral sebagai,
“Morality is, at the very least, the effort to guide one’s conduct by reason — that is, to do what the are the best reasons for doing — while giving equal weight to the interest of each individual who will be affected by one’s conduct.”
Blackwell Dictionary of Western Philosophy mengartikan sebagai,
“Being moral concerns human actions that can be evaluated as good or bad and right or wrong. These actions are in our power and we can be held rensponsible for them. If a persons actions conform to rules of what is morallity right, he said to be moral. If he violates them, he is immoral or morally wrong. Amoral action…is morally value-free, that is, neither right nor wrong (Bunnin & Yu, 2004: 443).”
A.R. Lacey (1996) mengartikan,
“Concerning habits, customs, ways of life, especially when these are assested as good or bad, right or wrong. Ethymologically the Latin “moral” corresponds to the Greek “ethical”. They both mean “concerning habits, etc”. ‘Ethical’ and ‘unethical’ tend often to be used of considerable behaviour directed at interests other than those of the agent, at any rate where the agent is an individual person.”
Dari pemaparan tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa moral berkaitan dengan suatu tindakan, perilaku, kebiasaan yang bisa diatributkan dengan nilai baik atau buruk, salah atau benar. Moral juga selalu berkaitan dengan manusia. Dengan demikian, ada suatu tindakan yang tidak bisa kita atributkan dengan nilai baik atau buruk, salah atau benar. Hal tersebut tidak bisa dianggap sebagai moral, melainkan amoral. Dan ada perbedaan antara amoral dengan imoral. Amoral diartikan sebagai perbuatan yang tidak mengandung nilai moral, sedangkan imoral diartikan sebagai perbuatan yang menentang moral.

III. Problem Moral
Sampai sini moral dimaksudkan berkaitan dengan baik atau buruk, salah atau benar suatu tindakan. Permasalahannya adalah bagaimana menentukan kriteria baik atau buruk, baik atau benar suatu tindakan? Apakah moral itu berada di luar atau independen dari kesadaran kita? Apakah moral itu bersifat absolut? Apakah baik menurut saya harus baik menurut orang lain? Apakah boleh memaksa kepada setiap orang agar mengikuti moral yang kita yakini? Apakah tujuan itu membenarkan segala cara? Apakah tindakan benar atau buruk itu tergantung dengan situasi? Apakah moral berarti mengikuti peraturan belaka? Apakah keputusan moral itu diputuskan dengan menggunakan fakultas rasio atau hati? Apakah moral itu eksis karena agama? Haruskah kita menolong ibu terlebih dahulu ketimbang orang lain? Apakah manusia itu egois atau tidak egois? Apakah manusia itu pada dasarnya baik atau buruk? Apakah kita harus mengikuti hati nurani dalam mengambil keputusan moral? Apakah moral itu merupakan suatu ungkapan perasaan melulu? Apakah kita harus berbuat baik walaupun dengannya kita mendapatkan kematian? Apakah binatang bermoral? Dan sebagainya.

Di sinilah letak permasalah moral yang ada. Dengan demikian, moral tidak cukup sekadar diterima, melainkan perlu diperiksa. Itulah yang dimaksud dengan etika. Etika hendak menjawab berbagai permasalahan moral.

IV. Etika
Etika merupakan salah satu cabang filsafat. Dalam pembagian klasiknya, filsafat terdiri dari filsafat teoritis dan filsafat praktis. Etika masuk ke dalam filsafat praktis.

IV.1. Pengertian Etika
Apa itu etika? secara etimologis etika berasal dari kata Yunani ethikos. Secara terminologi etika diartikan sebagai,
“That study or discipline which concerns itself with judgements of approval dan disapproval, judgments as to the rightness or wrongness, goodness or badness, virtue or vice, desirability or wisdom of actions, dispositions, ends, objects, or states of affairs (Meta-Encyclopedia of Philosophy, 2007).”
Itu juga terkadang etika dipetukarkan dengan filsafat moral. Karena pada dasarnya etika merupakan sebuah disiplin untuk secara sistematis memahami hakikat moralitas, yakni bagaimana seharusnya manusia hidup dan mengapa harus begitu. Ia juga studi tentang serangkaian nilai dan pedoman hidup, serta justifikasi untuk masing-masingnya.

Dalam etika segala hal justifikasi dan pengetahuan atasnya dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan.

IV.2. Ruang Lingkup Etika
Etika membicarakan segala perbuatan yang berkaitan dengan manusia dengan lingkup kehidupannya. Karenanya ruang lingkup etika banyak berkutat pada manusia. Dengan demikian, etika juga berurusan kepada persoalan manusia sebagai manusia. Bukan manusia sebagai dosen, mahasiswa, supir, rektor, pustakawan, tukang sapu, dll. Boleh jadi dosen bisa baik dalam mengajar (sebagai dosen), namun kebaikan dosennya tidak menjamin ia baik secara manusia.

Itu juga bisa dimengerti bahwa ada suatu perbuatan yang tidak mengandung nilai moralitas, yang disebut sebagai amoral.

IV.3. Epistemologi Moral
Dalam kaitannya dengan permasalahan moral, pertanyaan tersulit adalah dari mana kita bisa memutuskan suatu itu baik atau buruk, benar atau salah? Bisakah kita mengetahui bahwa menyiksa anak tidak berdosa adalah perbuatan tidak bermoral? Lebih jauh, bisakah kita mengetahui baik atau buruk itu? Mengetahui salah dan benar? Apakah mungkin mengetahui hal tersebut? Sejatinya, epistemologi moral mendedahkan permasalahan tersebut, persoalan pengetahuan dan justifikasi tentang moral.

IV.4. Tiga Pendekatan Etika
Setidaknya ada tiga pendekatan besar dalam etika:

1. Etika Deskriptif
Pendekatan ini hendak menggambarkan perbuatan dari berbagai tradisi, kebiasaan dan kebudayaan. Bagaimana tradisi Muslim atau Kristian membicarakan hubungan seksual sebelum menikah, misalnya? Pendekatan atau etika deskriptif lebih mencari tahu bagaimana berbagai tradisi yang ada menyoal satu permasalahan sama. Karenanya, ia tidak pernah menjustifikasi suatu kebudayaan yang ada. Ia juga lebih bersifat mengkomparatifkan perbedaan cara masyarakat menjawab pertanyaan moral.

Etika deskriptif lebih populer dalam kajian sosiologi dan antropologi. Mengingat sifatnya yang tidak menjustifikasi sistem moral suatu kebudayaan.

2. Etika Normatif
Berbeda dengan deskriptif, etika normatif dalam mengkaji moralitas yang ada, bersifat sekaligus menjustifikasi. Ia mencari tahu apa sih yang dimaksud dengan baik atau buruk, benar atau salah, dan bagaimana kita mengetahuinya. Apakah nilai baik atau buruk itu bersifat intrinsik atau nonintrinsik. Etika normatif bertanya “apakah melakukan hubungan seksual sebelum nikah benar?”

3. Metaetika
Studi yang menekankan tentang bagaimana gagasan etika berasal dan apa maknanya. Ia lebih bersifat kebahasaan atau pemaknaan atas segala ucapan moral. Apa yang kita maksudkan dengan ucapan “baik”? Pernyataan pisau ini baik apakah ekuivalen dengan “Dian itu baik”? apakah “baik” itu identik dengan “kebaikan”?

V. Teori-teori Etika
Terdapat banyak teori-teori etika. Namun demikian, dalam tulisan ini, setelah dilakukan riset kepustakaan, hanya memfokuskan pada empat teori, dengan alasan bahwa 1) semua teori yang ada bersinggungan dengan keempat teori tersebut; dan 2) semua pemikiran etika sekurang-kurangnya memercayai salah satunya.

V.1. Absolutis
Teori ini menganggap bahwa kebenaran moral bersifat universal. Artinya ia bisa diterapkan di mana pun, kapan pun. Dengan demikian, ketika membunuh dianggap sebagai salah secara moral, maka nilai tersebut akan berlaku kapan pun dan di mana pun.

Absolutis juga memercayai bahwa tindakan moral baik atau buruk, salah atau benar terdapat dalam dirinya sendiri. Dengan kata lain, perbuatan itu buruk karena hal tersebut memang buruk, bukan karena hal lain. Dengan begitu, absolutis tidak menekankan hasil perbuatan, melainkan semata perbuatan itu sendiri.

V.2. Relativis
Berbeda dengan absolutis, kaum relativis memercayai bahwa kepercayaan moral itu tidak universal. Setiap waktu atau tempat memunyai nilai moralnya sendiri, yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, membunuh itu mungkin salah bagi suatu kebudayaan tertentu. Akan tetapi, belum tentu dengan kebudayaan lain. Membunuh mungkin salah pada keadaan tertentu, tapi belum tentu pada keadaan lain.

Sederhananya, relativis memercayai bahwa kebenaran moral itu tergantung situasi, waktu, tempat dan kebudayaan. Tidak ada moral objektif yang tertanam dalam dunia eksternal. Prinsip etika relativis memercayai bahwa moralitas merupakan hal subjektif.

V.3. Teleologis
Etika teleologis memercayai bahwa nilai moral itu ditentukan dari akhir atau hasil tindakan. Jika suatu perbuatan menghasilkan kebaikan, maka ia benar atau baik secara moral, begitu pun sebaliknya. Implikasinya teleologis menganggap bahwa nilai moral itu tidak intrinsik dalam tindakan. Buruknya suatu tindakan bukan karena perbuatan tersebut pada dasarnya salah, melainkan karena hasil dari tindakan tersebut.

V.4. Deontologis
Kata deon berasal dari kata Yunani, berarti kewajiban. Dengan demikian, secara umum deontologis bisa diartikan sebagai teori moral yang menekankan kewajiban. Menurut teori ini perilaku moral didasarkan atas kewajiban. Ketika saya tidak berbohong, dalam pandangan ini, tindakan saya akan baik jika dilakukan semata kewajiban, bukan di luar itu. Pengin disanjung, misalnya. Karena untuk menentukan apakah suatu tindakan itu bisa disebut baik atau buruk tergantung alasan atau motifnya. Apakah saya melakukan sesuatu itu karena demi tujuan di luar tindakan tersebut atau karena semata saya harus melakukannya (baca: wajib)? Dalam prinsip deontologis, alasan pertama merupakan tindakan tidak bermoral, sedangkan alasan disebut terakhir merupakan tindakan bermoral.

Deontologis juga menekankan bahwa tindakan itu benar atau salah berasal dalam dirinya. Deontologis menganggap bahwa membunuh itu salah, sebab dalam tindakan membunuh secara intrinsik memang jahat.

VI. Kesimpulan
Betapa pun, moral pada dasarnya tidak bisa dijalani begitu saja. Ia perlu diperiksa atau dihayati. Setidaknya, seiring perkembangan waktu dan menyempitnya batas ruang maupun budaya, yang di mana pertemuan antarkultur sangat memungkinkan. Memeriksa atau menghayati moral merupakan keniscayaan.

Dengan bantuan filsafat, moral lebih mudah dipahami dan dipraktikkan serta dipertanggungjawabkan. Dan pada dasarnya, hampir bisa dipastikan dalam kesehariannya, setiap orang beretika. Sebagai misal, kita bisa menemukan pendapat banyak orang mengenai keangkuhan Bush. Mulai dari pangkalan ojek, warung kopi, rumah tanggga, arisan, kampus, hingga pesantren, semuanya membicarakan tindakan Bush. Dalam membicarakan hal tersebut, mereka tidak hanya sekadar berbicara, melainkan turut melakukan suatu penilaian.

Dengan etika atau filsafat moral, semua pernyataan atau penilaian kita tentang tindakan moral lebih dapat dipertanggungjawabkan.


Bibliografi

Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Jogjakarta: Jalasutra.

Audi, Robert (ed.). 1999. The Cambridge Dictionary of Philosophy. 2nd ed. USA: Cambridge University Press.

Bagir, Haidar. 2005. Buku Saku Filsafat Islam. Bandung: Arasy-Mizan.

Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Bertens, Kees. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia.

Bowie, Robert. 2004. Ethical Studies. 2nd ed. United Kingdom: Nelson Thomas Ltd.

Bunnin, Nicholas & Yu, Jiyuan. 2004. The Blackwell Dictionary of Western Philosophy. USA: Blackwell Publishing Ltd.

Concise Routledge Encylopedia of Philosophy. 2000. London: Routledge.

Eliade, Mircea (ed.). 1995. The Encyclopedia of Religion. vol. 10. USA: Simon & Schuster Macmillan.

Robinson, Dave & Garratt, Chris. 2004. Introducing Ethics. UK: Icon Books Ltd.

Kazhim, Musa. 2006. “Diktat Filsafat Moral”. naskah tidak diterbitkan.

Lacey, A.R. 1996. A Dictionary of Philosophy. 3rd ed. New York: Routledge.

Leaman, Oliver. 2001. A Brief Introduction to Islamic Philosophy. Polity Press.

Encyclopedia of Philosophy, “Metaethics”, dalam http://www.ditext.com/encyc/frame.html

Muththahhari, Murtadha. 2004. Filsafat Moral Islam. Jakarta: Al-Huda.

Muththahhari, Murtadha. 2002. Pengantar Ilmu-ilmu Islam. Jakarta: Pustaka Az-Zahra.

Newall, Paul. 2005. Ethics. dalam http://www.galileanlibrary.org/int11.html

Stanford Encyclopedia of Philosophy. Ancient Ethical Theory. 2004. dalam http://www.plato.stanford.edu/entries/ethics-ancient/

Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral. Jogjakarta: Kanisius.


Artikel Terkait:

{ 2 komentar... read them below or add one }

sawali tuhusetya mengatakan...

tulisannya sangat berbobot dan perlu waktu untuk bisa memahaminya. perlu saya save dulu nih. makasih banget pencerahannya, mas.

FilsafatKonseling mengatakan...

@ sawali tuhusetya:
Terima kasih jika berkenan menyimpan dan membacanya. Saya senang jika memang bermanfaat, sama halnya saya senang ketika membaca tulisan di blog Mas :-)

Poskan Komentar

Terima kasih atas peluangan waktu Anda membaca tulisan ini. Tentu saja, saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda ikut mengomentari tulisan ini.

 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner