Puasa dan Kekosongan Diri

Diposting oleh FilsafatKonseling on 8.08.2010

Gambar dari sini.
Puasa adalah kekosongan. Salah satu simbol kekosongan itu bisa dilihat dari tidak boleh makan dan minum. Dalam berbagai tradisi, makanan itu memiliki banyak makna simbolik. Misalnya, daging itu simbolik kualitas jiwa hewani seperti reproduksi. Tidak heran, jika ada tradisi yang memiliki ajaran selibat pasti memiliki ajaran tidak makan daging. Nah, makna simbolik dari setiap tradisi berbeda, bergantung pada penekanan filsafat manusianya.

Puasa secara historis bukan milik agama Islam saja, nyaris setiap tradisi agama memiliki ajaran puasa. Perbedaan terletak pada rentang waktu dan batasan makanan serta sikap normatif. Betapapun, semuanya tetap menyiratkan makna kekosongan.

Soal kosong itu sendiri, pada dasarnya sesuatu yang sangat purba dalam ajaran agama. Itu bisaa kita lihat pada soal wahyu. Dalam tradisi kenabian, sebagai contoh saja, bisa kita lihat gelar yang diberikan atau proses penerimaan wahyu itu sendiri atau pengangkatan nabi. Dalam Islam, Nabi Muhammad disebut sebagai ummi. Penafsiran umum kaum Muslim mengatakan bahwa makna ummi itu tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi, itu salah satu penafsiran saja. Jika kita tengok dalam tradisi tasawuf, para sufi mengartikan bahwa ummi itu adalah kekosongan diri Nabi Muhammad dari egonya, sehingga wahyu pun mampu masuk ke dalam dirinya. Dengan kata lain, ummi adalah wadah kosong, wadah yang bisa diisi, dalam hal ini oleh wahyu. Jika kita tengok tradisi Kristiani, makna perawan dalam diri Bunda Maria bisa dibaca dengan cara seperti itu. Jika Muhammad menerima wahyu yang kita kenal sebagai al-Qur'an, maka Bunda Maria menerima wahyu berupa Yesus, dengan kata lain Yesus itu adalah Logos. 

Orang berpuasa sama saja sedang mengosongkan diri. Hawa nafsu dalam konteks ini dipersonifikasikan dengan makan dan minum. Tidak heran jika Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Jika makan dan minum bukan suatu hal simbolik, tidak mungkin Nabi Muhammad berkata seperti itu lantaran secara fiqh umum orang yang berpuasa meski dia bergunjing pusanya tetap sah. Tetapi, nyatanya puasa lebih dari itu.

Tidak heran, jika tidurnya orang berpusa itu dianggap bernilai kebaikan lantaran itu juga suatu simbol. Orang tidur tentu kosong dari hawa nafsu, dalam arti dia tidak melakukan perbuatan buruk atau memikirkan perbuatan buruk.

Buat kita, yang sekarang menjadi pekerja, yang hidup dipenuhi dengan rutininas kerja demi memenuhi kebutuhan dasar, puasa menjadi suatu hal berharga, seperti air dingin buat peziarah gurun pasir gersang. Dengan puasa, yang sebelumnya kita lepas dari mengontrol diri dalam mencari nafkah, dengan berpuasa kita bisa mengontrol diri, tidak tergesa-gesa, mengusahakan waktu untuk bertafakur di sela-sela waktu kerja.

Sama halnya dengan tidur, yang dibutuhkan manusia untuk mengistirahatkan dirinya secara fisiologis, yang ujung-ujungnya memiliki dampak kesehatan tidak sekadar jasadi saja, barangkali puasa bisa kita maknai seperti itu jika memang itu lebih mudah buat kita internalisasikan maknanya ke dalam diri kita. Puasa adalah istirahat jiwa. Puasa adalah upaya mengosongkan ego kita. Seperti Nabi Muhammad yang bertafakur ke Gua Hira untuk mengosongkan diri, menyambut wahyu datang, peristiwa puasa juga bisa kita jadikan kesempatan buat jiwa kita untuk mengenal lebih hakikat dirinya.

Akhirul kalam, saya mau mengutip perkataan salah satu Guru Mistik, yaitu Meister Eckhart, "agar Tuhan dapat masuk ke dalam diri kita, kita [ego] harus keluar". Semoga, melalui puasa ini, diri kita bisa mengenal Diri-Nya dan diri kita menjadi lebih baik.

Selamat berpuasa! 
Selamat kosong!



Artikel Terkait:

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar

Terima kasih atas peluangan waktu Anda membaca tulisan ini. Tentu saja, saya akan lebih berterima kasih lagi jika Anda ikut mengomentari tulisan ini.

 

YANG MENGIKUT

Hasil Bertukar Banner